Monday, January 3, 2011

Peluang Ekspor Belut Belum Tergarap

TEMPO Interaktif, Karawang - belut (anguilla sp.) atau dikenal sebagai belut air ternyata merupakan salah satu komoditas berharga. Kalau Anda mengenal ikan Salmon sebagai lauk dengan kandungan DHA paling tinggi, maka kamus menu dapur Anda mungkin perlu ditambah dengan daging belut. Pasalnya, menurut penelitian kandungan DHA belut, komoditas asli Indonesia, ini ternyata jauh lebih tinggi dari Salmon.

Di Jepang, yang masyarakatnya gemar mengkonsumsi ikan segar, daging belut atau dikenal sebagai Unagi merupakan menu favorit restoran. Tak heran kalau belut asli Jepang (anguilla japonica) sampai masuk daftar hewan langka yang tak boleh diperdagangkan oleh Konvensi Perdagangan Internasional untuk Hewan-Hewan Langka (CITES). Tapi di Indonesia tentunya ini adalah peluang besar yang harus digarap.

Kepala Balai Layanan Usaha Tambak Pandu Karawang I Made Suitha mengatakan permintaan Jepang atas belut mencapai 100 ribu ton per tahun. "Kalau ekspor kita bisa memenuhi seperempatnya saja sudah bagus untuk kita," kata Made dalam Press Tout Kementrian Kelautan dan Perikanan, Sabtu pekan lalu.

Selama ini, kata Made, Indonesia baru mengekspor belut dalam bentuk benih. Karena itu, pada 2010 ini, Pemerintah menargetkan akan mengekspor belut siap dikonsumsi. "Dengan begitu ada nilai tambahnya," ujarnya. Tak hanya Jepang sebagai peminat utama, pasar Korea Selatan, Vietnam, dan Taiwan juga besar.

Untuk pangsa pasar Jepang, yang menjadi produk unggulan adalah jenis anguilla bicolor yang harganya mencapai Rp 55 ribu per kilo gram. Sebelumnya belut jenis ini harganya sempat mencapai Rp 105 ribu per kilo gram.

Selain jenis bicolor, Indonesia mempunyai dua jenis lain yang juga laku di pasaran Internasional, yaitu jenis marmorata dan renhati. Di pasar harga marmorata mencapai Rp 150 ribu per kilo gram sementara renhati mencapai Rp 300 ribu per kilo gram. "Peminat marmorata mencapai pasar Amerika Serikat," kata Made.

belut jenis renhati, tadinya banyak dikembangkan di Australia, tapi ternyata di sana tak bisa bertumbuh optimal karena pengaruh musim dingin. "belut jantan hanya bisa bertumbuh hingga setengah kilo gram dan yang betina hanya sekitar dua kilo. Kalau di Indonesia, yang jantan bisa mencapai dua kilo gram dan yang betina bisa sampai lima kilo gram," ujar Made.

Sejak bulan lalu, Australia bekerja sama dengan Indonesia untuk pengembangan belut jenis ini. Saat ini proses budidaya sudah dipindahkan dari Karawang ke Suri Tani Pemuka di Probolinggo.

Sayangnya, menurut Made, tambak belut di Indonesia belum tergarap optimal. Dari target pembesaran 15 kilo gram per meter kubik baru tercapai 10 kilo gram per meter kubik.

Karena itu, agar keinginan mengekspor segera terlaksana pemerintah menjalin kerja sama dengan perusahaan dari Jepang, Asama Industry Co. Ltd. untuk belajar mengelola tambak pembesaran belut sesuai standar pasar Jepang. "Pada tanggal 24 Maret ini mereka akan menindaklanjuti perkembangan budidaya di sini,"tambah Made.

Menurut Made, konsumen Jepang agak ceriwis soal kualitas. Mereka, misalnya, hanya mau belut yang kadar lemak dagingnya rendah (tak boleh lebih dari 10 persen). belut-belut tujuan ekspor itu pun musti diberi pakan khusus berupa pasta yang dipercaya mempengaruhi rasa daging. Konsumen Jepang, kata Made, juga lebih menyukai belut dengan ukuran sekitar 250 sampai 400 gram per ekornya.

Made mengungkapkan persaingan dalam pasar belut mulai ketat, termasuk sejumlah hambatan non-tarif dalam perdagangan internasional. Bahkan di Jepang juga ada mafia bisnisnya. "Sekarang persyaratan masuk ke pasar Jepang semakin bermacam-macam. Bahkan ada persyaratan proses budidaya harus dilakukan di dalam ruangan," tutur Made.


Permintaan dunia untuk belut per tahun mencapai 230.000 ton. Sementara permintaan Jepang mencapai 120.000 ton per tahun.

Sejauh ini, menurut Saut, Cina menjadi produsen utama belut yang memasok 70% permintaan dunia. Sementara produsen belut lainnya selain Indonesia adalah Vietnam dan Bangladesh.

Ekspor belut pertama kali dilakukan Indonesia ke Taiwan pada tahun 2007, sebesar 300 kilogram (kg). Ekspor belut lainnya juga dilakukan ke Hongkong, Singapura, Jerman, Italia, Belanda, dan Amerika Serikat.

Penyebaran belut sendiri sangat luas di tanah air. Ada sekitar 12 spesies belut yang tersebar di pantai barat Pulau Sumatera, pantai pesisir selatan Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT, pantai timur Pulau Kalimantan, perairan Sulawesi, Maluku, hingga di perairan Papua.

Cara budidaya belut super

14 comments:

  1. modal ternak belut berapa ya? :)

    ReplyDelete
  2. Jadi Indonesia masih memerlukan belut untuk di export? jika saya bisa membantu, bisakah diinformasikan mengenai persyaratan belut yg dapat di export dan bagaimana cara kerjasama yg bisa di lakukan? mohon informasinya ke email : yan2@fasindo.com atau ke yan2m78@gmail.com, terima kasih.

    Salam Hangat,

    Yan Yan Mulyana

    ReplyDelete
  3. Minta tips/langkah2 awal ternak belut donk....
    informasinya bisa di kirim ke redlinelover7@gmail.com

    maturnuwun....

    ReplyDelete
  4. Apakah ada Tmn2 BDR yang sudah menggeluti bisnis belut ekspor ini ??

    ReplyDelete
    Replies
    1. no hp yg bisa d hubngi brpa bos??? soal d daerah saya d NTB trmasuk blut yg blum d sentuh oleh para pencari blut seindonesia...ini no hp 085253599994 q klw bos ad keinginan tk bermitra,,,,sukses slalu buat bos....

      Delete
  5. Information updated: bahwa tidak semua belut bisa kita export. Ada bermacam-macam jenis belut. Barusan saya call ke pihak Bina Kendali Mutu @ SoekarnoHatta bahwa belut sawah tidak bisa dilakukan export. Saat ini ada supplier yang sanggup 8 tons/week tapi masih menunggu boleh tidaknya commodity ini kita export.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Pak Koentono

      apakah sekarang bibit belut tidak boleh expor ?

      Tks
      king.fikri@gmail.com

      Delete
  6. saya berminat dengan bisnis Tambak belut, tapi yang menjadi penghalang buat saya adalah pertama jenis beluta apa yang layak jual ke luar negeri dan kemana harus saya jual atau export belut ini nantinya...
    Terimah kasih

    email : hendraajalah@yahoo.com
    hendrapaulus83@gmail.com

    ReplyDelete
  7. Terima kasih atas infonya, sangat bermanfaat. Saya ingin bertanya, kebutuhan untuk belut yang diekspor jenisnya apa saja ? jumlahnya berapa Ton atau Kg sekali Ekspor ? dan untuk untuk menyalurkannya/eksportirnya siapa ?
    Mohon penjelasannya di kirim ke email saya.

    Terimakasih

    email:priadana17.cospat@gmail.com

    ReplyDelete
  8. terima kasih atas infony. Begini pak/ibu, saya berencana ingin menggeluti bisnis ekspor belut tapi saya bingung dimana nantinya tempat saya menyalurkan ekspor belut tersebut, karena saya tinggal di padang sumatera barat. apakah ada relasinya di padang?
    mohon penjelasannya di kirim ke email saya.

    terimakasih

    email: adon.mr7@gmail.com

    ReplyDelete
  9. gimnana cara untuk expor belut-belut yang sudah siap panen....?
    dan bagai mana jga prosesnya...
    mohon bimbingannya pak...
    apa bisa bekerja sma dengan bpk untuk expor...?

    cp:
    email: randy.wibowo.91@gmail.com
    NoHp : 085375471937
    A/n : Randy wibowo

    ReplyDelete
  10. saya ingin tau untuk jenis-jenis belut apa saja yang masuk syarat eksport...
    mohon infonya :syahrir_sf@yahoo.com

    ReplyDelete
  11. pak saya moho info atau kalau ada forum diskusi soal ekspor belut ini??
    ferdiyanprihandono@gmail.com

    ReplyDelete
  12. kurang uptodate dari penulisnya, ga ada email balasan.

    ReplyDelete

Peluang Bisnis Ekspor Terbuka Lebar, Dengan Ide Besar Kita Bisa Bangun Usaha Ini Tanpa Modal. Bila Ingin Belajar Bisa Bergabung di Forum BDR Bila anda adalah supplier untuk barang-barang ekspor, dengan senang hati kami menerima kerjasama pemasaran untuk produsesn dan marketing, silahkan kontak kami

Artikel Terbaru Forum Bisnis Ekspor Indonesia